Can lobotomies to treat depression?
Lobotomi adalah operasi bedah yang dirancang untuk mengobati nyeri atau gangguan emosional. Lobotomi pertama kali dilaksanakan pada tahun 1884 di Amerika, ketika sebuah ledakan menyebabkan sebatang besi menancap di bagian depan kepala pekerja tambang Irlandia bernama Phineas Gage, dan menimbulkan luka serius. Setelah kecelakaan itu, dokter melihat bahwa Gage tidak hanya selamat, tetapi juga kelihatannya mengalami perubahan kepribadian secara menyeluruh. Sayangnya, perubahan itu tidak terjadi lebih baik. Sebelumnya, Gage mudah disukai, bersuara lembut, dan religius. Tetapi setelah kejadian itu, sifatnya menjadi tidak sabar, gelisah dan kasar, serta sering mengucapkan kata-kata kotor.
Ahli saraf dan psikiater Amerika bernama Walter Freeman (1895- 1972), yang dikenal sebagai bapak lobotomi, tercatat telah melaksanakan 3.439 lobotomi sepanjang kariernya, Freeman dan koleganya, James Watts, memelopori lobotomi di Amerika. Mereka sering melaksanakannya untuk menenangkanpasien penderita gangguan mental yang agresif. Freeman percaya, lobotomi berhasil karena memutuskan hubungan saraf antara otak bagian depan (frontal lobe) dan thalamus. Thalamus adalah bagian otak yang mengoodinasikan pesan saraf yang berhubungan dengan indra penglihat, pendengar, peraba, dan perasa. Freeman berpendapat bahwa thalamus adalah “pusat emosi”, dan secara umum orang yang sakit jiwa memiliki terlalu banyak thalamus ini. Setelah lobotomi dilaksanakan, sebagian pasien merasa kondisinya membaik. Namun, mereka kerap harus mempelajari lagi cara makan, berpakaian, dan menggunakan kamar mandi, dan sebagian lagi meninggal tak lama setelah operasi.
Freeman melakukan lobotominya yang pertama, pada 1936, terhadap Alice Hammatt, wanita berusia 63 tahun yang menderita depresi. Freeman dan para asistennya membuat enam lubang di bagian atas tengkorak Mrs Hammat dan menurut Freeman, si pasien berubah, bisa “pergi ke bioskop dan benar-benar menikmati pertunjukannya”.
Freeman mengembangkan teknik lobotomi lainnya, yaitu membaringkan pasien dengan mata terbuka. Pasien diberikan anestesi lokal atau umum. Kemudian, sebuah alat pemecah es dimasukkan ke dalam lesung mata pasien dan dipukul dengan palu untuk memecahkan tulangnya. Lalu, ujung alat pemecah es itu didorong sekitar 4 cm ke dalam otak bagian depan dan digerakkan maju mundur, Prosedur ini diulang pada mata yang satu lagi. Setelah itu, pasien akan ditinggalkan dengan mata bengkak atau memar.
Adik perempuan John F. Kennedy, Rosemary, menjalani lobotomi yang dilaksanakan oleh Freeman pada umur 23 tahun. Sejak kecil, dia mengalami kesukaran belajar dan konon berperagai sulit dan lekas marah. Pada tahun 1941, Rosemary yang berusia 23 tahun tinggal disebuah biara dan, menurut penulis biografi keluarga Kennedy, Laurence Leamer :
Dia (Rosemary) mulai lekas tersinggung. Kemarahannya tak terkendali, kedua lengannya memukul-mukul, dan suaranya melengking tinggi…Dia menyelinap keluar di malam hari dan kembali pagi-pagi sekali dengan pakaian kotor dan basah kuyup. Biarawati takut dia bertemu dengan laki-laki dan kemudian hamil atau sakit.
Ayah Rosemary, Jot Kennedy, menghubungi Freeman, yang merekomendasikan lobotomi agar dapat mengendalikan perilaku Rosemery mulai menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap prialah, yang mungkin menimbulkan rasa malu pada keluarga Kennedy, yang menjadi faktor utama dilaksanakannya lobotomo. Sayangnya, operasi itu gagal dan Rosemery menjadi tak berdaya. Dia tidak lagi mampu mengontrol buang airnya, tidak bisa berbicara lebih dari beberapa kata, dan sering melamun ke arah dinding selama berjam-jam. Seumur hidup dia membutuhkan bantuan orang lain hingga meninggal pada usia 86 tahun.
Pada tahun 1967, Freeman melaksanakan lobotomi pada seorang pasien perempuan. Pada operasi itu, tanpa sengaja dia memotong suatu pembuluh darah dan si pasien meninggal karena pendarahan tiga hari kemudian. Kejadian ini langsung menamatkan karier Freeman dan dia meninggal karena kanker pada tahun 1972, pada usia 76 tahun.