How does Viagra work?
When sexually aroused, males transmit nerve signals from the brain to the penis. These nerve signals cause production of a chemical called cyclic guanosine monophosphate (cGMP), and these chemicals are ordered muscular walls of the arteries of the penis to relax and widen. Other chemical substances responsible for the breakdown of cGMP, which causes loss of erection.
The most common reason of men, especially the old age, suffering from erectile dysfunction is, although they can be stimulated, cGMP produced is not enough. As a result, the arteries in the penis can not relax and widen, so that blood flow to the penis does not increase when the brain sends signals. Viagra helps prevent the breakdown of cGMP thereby increasing blood flow, and that means can not enforce the penis. The more cGMP produced, the more blood flow appears. That is, an erection may take longer.
Viagra awalnya dimaksudkan sebagai obat untuk tekanan darah tinggi dan angina, hingga peneliti menemukan bahwa Viagra memiliki efek samping yang tidak terduga—menyebabkan ereksi.
Ketika terangsang secara seksual, laki-laki mengirimkan sinyal-sinyal saraf dari otak ke penis. Sinyal saraf ini menyebabkan produksi zat kimia yang disebut siklik guanosin monofosfat (cGMP), dan zat kimia inilah yang memerintahkan otot dinding arteri penis untuk relaks dan melebar. Zat kimia lainnya bertanggung jawab atas penguraian cGMP, yang menyebabkan hilangnya ereksi.
Alasan paling umum laki-laki, terutama yang berusia tua, menderita disfungsi ereksi adalah, meski mereka bisa terangsang, cGMP yang diproduksi tidak cukup. Akibatnya, arteri dalam penis tidak bisa relaks dan melebar, sehingga aliran darah ke penis tidak meningkat ketika otak mengirimkan sinyal tersebut. Viagra membantu mencegah terurainya cGMP sehingga meningkatkan aliran darah, dan itu artinya bisa menegakkan penis. Semakin banyak cGMP yang dihasilkan, semakin banyak aliran darah yang muncul. Artinya, ereksi bisa berlangsung lebih lama.